YAKUZA HMI .. !!!

HMI pada usianya yang mustinya sudah dewasa, ternyata HMI belum mampu berbuat banyak. Alih-alih berbuat untuk bangsa, di internal HMI sendiri sampai kini masih mengalami kelimbungan dan ketidakjelasan orientasi kelembagaan. Kalau dulu HMI punya bargaining yang kuat sebagai satu-satunya organisasi kemahasiswaan yang berani frontal melawan rezim otoritarian dengan mempertahankan asas Islam, maka sesungguhnya sekarang sudah muncul puluhan organisasi yang berasaskan Islam. Jika dulu kita identik dengan simbol perlawananya dengan rezim Suharto, maka sekarang sudah tidak ada lagi Suharto yang bisa dijadikan sebagai simbol musuh bersama

Dahulu setiap kader yang keluar selesai mengikuti LK I adalah seorang yang sangat militan dan konsisten terhadap perubahan zaman, orang yang selalu siap melawan segala bentuk ketidakadilan. Namun sekarang, siapa jamin lulusan LK I memiliki ghiroh ke-Islaman (baca: semangat perubahan) sebagaimana kader-kader hasil perkaderan zaman terdahulu. Bukankah sekarang para lulusan LK I lebih banyak berorientasi pragmatis?

Ibarat seorang anak muda yang menginjak dewasa, maka HMI pun sekarang mengalami permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks. Sekarang adalah masa di mana HMI harus melewati proses menuju kedewasaan dengan berbagai rintangan dan ujian yang harus dihadapinya. Dengan adanya perubahan zaman, HMI dituntut untuk menemukan citra dirinya yang baru (yang berbeda dengan masa lalunya), agar HMI bisa tetap eksis dan aktif memberikan kontribusi terahadap ummat..

Fenomena pasca reformasi adalah kejutan yang memaksa HMI berpikir keras mencari alternatif-alternatif jawaban (tapi buka bersifat apologi) atas tantangan zaman. Ketidakmampuan HMI menangkap peluang perubahan ketika reformasi sebagai momen yang strategis bagi penemuan citra diri baru HMI adalah satu hal yang perlu kita refleksikan. Malah fenomena ini semakin membuat kader-kader HMI mengalami kebingungan-kehilangan arah sehingga banyak dari mereka yang melakukan hijrah ke wadah lain, atau minimal istirahat berkarya karena energinya telah habis untuk berpikir mempertanyakan siapa dirinya.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, perkenankan saya mencoba menginventarisir beberapa permasalahan yang saya anggap krusial di HMI.

Perkaderan

Dalam AD/ART, jelas sekali tercantum bahwa HMI selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan. Artinya bahwa sudah menjadi lazimnya jika perkaderan di HMI menjadi titik sentral dari kemajuan HMI itu sendiri. Dengan perkaderanya HMI akan mencetak manusia-manusia unggul yang akan menjadi pelopor dalam komunitasnya, tentu dengan tanpa kehilangan komitmen pada HMI itu sendiri. HMI akan menjadi semacam produsen manusia bermutu, karena HMI punya metode-metode perkaderanya yang jempolan.

Namun dalam kenyataanya apakah hal itu bisa terwujud? Jawabanya berada pada masing-masing dari individu kita di mana HMI bersemayam. Yang jelas, menurut hemat saya, dengan melihat indikasi-indikasi yang ada, kenyataannya masih jauh panggang dari pada api. Dari segi model perkaderanya saja, sekarang HMI masih memakai model perkaderan yang sudah cukup usang, model yang sudah dipakai bertahun-tahun tanpa mengalami banyak inovasi. Padahal kita tahu zaman telah banyak berubah. Karakteristik dan semangat orangpun telah banyak berubah. Mungkin model perkaderan yang kita pakai selama ini cocok untuk beberapa tahun yang lalu, dimana kita masih berada pada iklim yang tidak terbuka seperti sekarang ini. Akan tetapi pada kondisi sekarang dimana tantangan dan keadaan zamanya sudah berbeda seharusnya konsep-konsep model perkaderan di HMI muliu direkonstruksi.

Idealnya, model perkaderan HMI adalah dinamis dengan selalu mengalami pembaharuan. Harus ada sebagian kecil dari elit HMI yang berani untuk selalu aktif melakukan aksperimentasi-eksperimentasi. Harus ada pula yang berani untuk menyusun perumusan-perumusan. Kiranya sudah cukup banyak keluhan-keluhan dari grass root HMI mulai dari level koimisariat sampai cabang mengenai ketidakefektifan pola perkaderan kita selama ini. Banyak yang mempermasalahkan bawa perkaderan formal yang ada di HMI (LK I, LK II, LK III) terlalu arogan bagi HMI sendiri. Seakan-akan hanya ketiga jenjang training itulah yang bisa “mencetak” kader HMI seutuhnya. Padahal, tidak ada jaminan kader pasca BATRA bisa langsung menjadi kader yang mumpuni dan punya komitmen yang tinggi. Jujur, secara pribadi, sekarang saya sudah tak bisa menaruh harapan yang terlalu tinggi lagi dengan lulusan LK I HMI. Lulusan LK I HMI masih perlu diverifikasi lagi soal semangat intelektual dan identitas ke-HMI-annya.

Bagi saya, dengan hanya mengikutsertakan seorang mahasiswa pada training LK I tidaklah cukup. Proses interaksi pasca LK justru lebih penting untuk menjadikan seorang kader benar-benar memahami sikap dan nilai-nilai HMI. Fokus perkaderan HMI selama ini yang hanya pada training-training formal HMI sudah harus diimbangi dengan penambahan fokus pada penguatan aktifitas kelembagaan, yang bukan hanya berorientasi program namun juga berorientasi perkaderan. Bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dengan penyediaan lokus-lokus kegiatan rutin yang mencerdaskan atau dengan penguatan lembaga-lembaga kekaryaan.

Penyediaan lokus-lokus kegiatan yang berorientasi perkaderan misalnya dengan aktifnya lembaga dalam kegiatan kajian-kajian isu strategis dan termasuk perumusan konsep. Lembaga menyediakan semacam kelompok “limited group” yang secara aktif merespons isu-isu yang berkembang di masyarakat. Dalam satu kelembagaan di HMI, baik di tingkat cabang ataupun komisariat, perlu disediakan beberapa kelompok limited group ini, sehingga cabang atau komisariat tidak akan didominasi oleh hanya satu arus keilmuan tertentu. Kelompok ini sebaiknya juga berbasiskan keilmuan, disesuaikan dengan minat dan background studi masing-masing anggotanya.

Kelompok-kelompok ini tentu saja harus di asuh oleh seorang pengasuh (suhu/mentor/senior) yang mumpuni di bidang keilmuan (kajian)-nya masing-masing. Akan tetapi jangan lupa, kelompok-kelompok ini juga harus melibatkan kader-kader muda supaya bisa berkembang. Dengan kata lain, kelompok ini adalah bagian dari jalan bagi kader-kader muda untuk berproses menemukan identitas keilmuan dirinya. Masing-masing kelompok akan aktif melakukan kajian dan analisis terhadap isu-isu yang berhubungan dengan bidang kajiannya, dan tidak lupa, pada momen-momen tertentu melakukan respon secara publik, baik melalui media, seminar, diskusi, workshop dan bahkan penerbitan buku. Ketika membuat kegiatan publik inilah (seminar, workshop, publikasi, dan sebagainya) kader-kader HMI punya kesempatan untuk menciptakan aktifitas konkret dalam bentuk kepanitiaan. Dengan adanya kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut di atas, setiap kelompok akan mempunyai out-put yang jelas yang bisa didiseminasikan ke masyarakat umum sebagai sebuah karya dan kontribusi nyata HMI pada masyarakat.

Selain itu, lembaga kekaryaan semestinya diperkuat agar bisa menjadi wadah bagi kader-kader HMI untuk berkembang. Di tingkat PB, nyaris tidak ada lembaga kekaryaan yang mampu menjadi wadah bagi kader HMI untuk berlatih menjadi ‘profesional’. Bahkan keberadaan lembaga kekaryaan cenderung menyusut dari tiap periode kepengurusan. Demikian juga ditingkat komisariat, jumlah lembaga kekaryaan masih sangat sedikit. Kalaupun ada lembaga kekaryaan, paling tidak jauh dari LAPMI dan LEMI.

Padahal, jika kita mau optimalkan lembaga-lembaga kekaryaan, niscaya HMI akan banyak menyediakan ruang-ruang perkaderan bagi kadernya. Lembaga kekaryaan juga bisa menjadi alat bagi HMI untuk melakukan komunikasi dengan lembaga-lembaga di luar. Dengan core business tertentu pada masing-masing lembaga kekaryaan, maka akan lebih mudah bagi lembaga-lembaga tersebut untuk melakukan kerja sama dan pembukaan jaringan dengan lembaga-lembaga lain yang sejenis.

Kelembagaan

Saya masih melihat bahwa organisasi semacam HMI ini adalah organisasi “pseudo formal”, artinya bahwa secara hierarkis keorganisasian, HMI masih memakai aturan-aturan sebagaimana organisasi formal pada umumnya; HMI punya struktur yang jelas, punya AD/ART dan pedoman-pedoman lainnya, dan juga punya sistem adminstrasi. Namun dalam realitasnya, aktifitas HMI lebih sering menekankan hal-hal yang informal, disamping secara de-jure memang HMI-MPO tidak punya legalitas yang pasti (berdasarkan administrasi Negara RI). Iklim organisasi yang dibangun di HMI juga lebih menekankan manajemen ikhlas-kekeluargaan dari pada manajemen professional; tidak ada materialisasi reward dari tiap karya atau kerja kelembagaan oleh HMI terhadap pelakunya.

Ikatan kerja yang profesional dalam HMI yang lemah menjadikan kerja-kerja individual dalam HMI lebih dominan daripada kerja-kerja kolektif kelembagaan. Sebagaimana seringkali kita lihat, sering sekali terjadi aktor tunggal dalam tiap kepanitiaan di HMI (ia yang punya ide, ia yang mengetik proposal, ia yang mencari dana, ia dan akhirnya ia pula yang mengerjakan programnya). Gejala ini merebak baik dari cabang sampai komisariat. Tak ada pembagian tugas dan wewenang yang kongkret dalam HMI. Distribusi tugas yang ada hanyalah tertumpu pada sebagian aktor saja.

Lalu bagaimana solusinya? Kiranya, minimal ada dua hal penting yang harus diperhatikan sebagai solusi atas persoalan-persoalan kelembagaan. Pertama, pemanfaatan teknologi komunikasi untuk melakukan koordinasi di HMI. Jangkauan geografis yang sangat luas, menjadikan HMI tidak mungkin lagi menggunakan sistem koordinasi konvensional sebagaimana yang selama ini dilakukan (misalnya dengan surat menyurat melalui pos). Jikapun sudah dimanfaatkan sarana internet, akan tetapi masih dalam taraf yang tidak efisien dan tidak aplikatif. Sarana internet masih dimaknai hanya sebagai pengirim email yang sifatnya informal. Secara kelembagaan belum ada adaptasi dari HMI untuk mendayagunakan teknologi sebagai sebuah alat untuk koordinasi.

Kedua, perubahan model kepemimpinan. Dalam tradisi kita selama ini, pimpinan bukanlah seseorang bertugas melakukan proses kepemimpinan terhadap yang dipimpinnya untuk untuk melakukan pekerjaan atau program organisasi, melainkan seseorang yang mengerjakan sendiri pekerjaan teknis program keorganisaian mulai A sampai Z. Para kabid (atau ketua komisi) di HMI bukanlah seorang yang memanaj para stafnya untuk mengerjakan suatu program, akan adalah seorang yang pelaksana program itu sendiri: mulai dari membuat undangan, memfoto kopi, mendistribusikan bahkan sampai menyediakan perlengkapan dalam kegiatan tersebut, jika di perlukan. Nah, pertanyaannya, bisakah kita mengubah model kepemimpinan di HMI menjadi lebih profesional dan efektif?

Profesional artinya pemimpin di HMI musti ditempatkan sebagai seorang yang menginspirasi anggotanya untuk berkarya. Profesional bisa juga diartikan bahwa HMI mulai memberikan peluang bagi banyak orang untuk menjadi pemimpin. Jika selama ini kepemimpinan di HMI hanya terletak di struktur PB, cabang, dan komisariat, maka barangkali HMI perlu mendorong munculnya kepemimpinan di lembaga-lembaga non-struktural di HMI, misalnya di lembaga kekaryaan, lembaga kajian, dan sebagainya. Intinya adalah adanya proliferasi kepemimpinan di mana siapa saja bisa menjadi pemimpin di ruang aktualisasi dan bidangnya masing-masing.

Sementara yang dimaksud kepemimpinan efektif adalah kepemimpinan yang bisa memberikan inspirasi dan motivasi bagi para anggotanya untuk berkarya. Ia harus mampu memberikan peluang seluas-luasnya bagi para anggota untuk beraktualisasi diri dan berkembang. Ia adalah seorang motivator ulung yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin baru di masa depan yang lebih bagus dari dirinya.

Transformasi Wacana

Lemahnya sistem komunikasi internal yang ada di HMI seringkali menjadi hambatan bagi kader-kader HMI tingkat bawah untuk mengikuti wacana-wacana yang dibangun oleh para elitnya. Selama ini HMI masih menggunakan sistem komunikasi konvensional yang selain lambat dan kuran responsif, sistem tersebut kurang bisa menjangkau ke bagian bawah. Kendala informasi ini yang kemudian menjadikan transformasi ide yang ada dalam tubuh HMI menjadi tersendat. Wacana yang dibangun oleh para pemikir HMI menjadi nampak melangit dan susah di jangkau oleh grasss-rootnya. Wacana oleh elit hanyalah menjadi hiasan, tanpa bisa tertransformasikan secara optimal kepada kade-kader di bawah.

Sementara bagi kader HMI bawah, mereka semakin gamang dengan identitas ke HMI-anya. Tak ada mainstream yang jelas bagi mereka untuk mengidentifikasikan dirinya sebgai orang HMI. Pada tingkat komisariat yang terjadi sekarang adalah lebih banyaknya masuk wacana-wacana luar – meski tetap mengatas namakan Islam – yang pada akhirnya dianggap wacana HMI. Akhirnya komisariat membangun wacananya sendiri yang tidak sesuai dengan mainstream wacana yang dikembangkan oleh struktur HMI di atasnya. Yach,.. abis mau apa lagi, khan tak ada tema yang jelas dari cabang atau PB buat komisariat?

Ketiadaan wacana umum dalam HMI ini yang di tambah dengan tenggelamnya struktur elit HMI pada skala mondial (Cabang dan PB)2) semakin menjadikan kader-kader HMI mengalami disorientasi. Dengan demikian kader akan cenderung mencari wacana lain yang dianggap sesuai dengan pribadinya. Terus terang banyak kader HMI yang merasa bingung dengan ke-HMI-anya. Mereka seolah bingung dengan definisi “kebenaran” ala HMI, sebenarnya kebenaran yang mana yang mereka pegang selama ini?. Lama kelamaan jalinan emosipun melemah dan pada dataran paling bawah tak ada lagi perbedaan agregatif antara HMI dan non-HMI. Maka kamudian seandainya ada intensi yang lebih besar bagi seorang kader dengan komunitas lain, sudah bisa di pastikan kader tersebut akan hijrah, untuk tidak dikatakan murtad, dari HMI.

Ketidakjelasan identitas wacana jika berlangsung terus maka akan terjadi ketidak sinergisan dan ketidaksinambungan gerak langkah perjuangan HMI itu sendiri. Dimulai dari berkurangnya kualitas, kwantitas kader bahkan jiwa HMI dari kader itu sendiri akan tak terlihat. Sehingga kebersamaan dalam HMI luntur seperti warna pakaian yang dicuci berulang ulang. Dan kesemuanya akan membawa kepunahan yang berarti terhadap HMI.

Dari semua hal diatas diperlukan reorientasi wacana yang sesuai dengan kondisi komisariat-komisariat. Sehingga para kader HMI mengerti dan menjiwai proses terbentuknya pemikiran pemikiran yang dijalankan oleh komisariatnya masing masing. Diharapkan rasa memiliki akan muncul atas kesadaran diri bahwa kader punya andil dalam gerak perjuangan komisariat dan kader mampu berkembang dengan terlibat di komisariat (kejelasan fungsi diri). Reorientasi wacana yang ada juga akan mengurangi penyeberangan kader, karena kader mengetahui peran diri yang tertuntut dari wacana organisasi yang terbentuk di komisariatnya dengan segala kepahaman kader. Dengan demikian kreatifitas kader akan muncul dengan semarak karena kejelasan fungsi dan peran diri dari dikomosariat dapat dipahami dan dijiwai serta di wujudkan oleh tiap kader.

Kita juga harus menghilangkan monopoli saluran saluran utama masuknya wacana-wacana oleh cabang hanya melalui LK-LK di HMI. Fungsi dan peran diri seorang kader harus muncul dari lingkungan terdekat kader itu sendiri bukannya pemaksaan dari lingkungan luar atau lingkungan elit organisasi. Pada tingkat komisariat perlu segera di ciptakan kelompok-kelompok kajian ataupun diskusi yang diharapkan akan menjadi wahana untuk pengembangan pemikiran kader pada tingkat awal, sekaligus akan menjadi sarana perekat bagi para kader baru HMI terhadap komisariat maupun sesama anggota. Kalau perlu para pengader HMI di tingkat cabang yang selama ini hanya asyik mengurusi LK-LK saja, turun ke komisariat untuk menjadi fasilitator diskusi-diskusi post-LK tersebut. Hal ini bisa juga berfungsi sebagai sarana transformasi wacana juga khan?

Penutup

Kami berharap yang terjadi pada masa-masa sekarang adalah masa dimana HMI sedang mengalami cobaan untuk meraih ke tingkat kedewasaan lebih lanjut. Beberapa fase lagi akan kita lewati. Dan Tuhan telah berjanji tak ada cobaan yang tak bisa di sangga oleh umatnya. Jika menginginkan perubahan, tentu kita semua tahu bahwa “perubahan akan terjadi jika kaum itu sendiri yang akan merubahnya. Hanya perlu sedikit kontemplasi dari HMI agara dibukakan jalan menuju kemajuan. Ayo, mari kita semua bersamangat, bekerja sama saling bahu membahu memajukan HMI. Yakuza…yakin usaha zampai!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s